Sejarah Desa

  09 Maret 2017  |  DESA KEDAYUNAN

Pada jaman dahulu sekitar tahun 1910, di wilayah Kabupaten Banyuwangi bagian selatan, tepatnya di ujung sebelah timur pulau jawa di kaki gunung Semeru persisi diantara kota Banyuwangi Rogojampi, terdapat sebuah daerah subur yang diberi nama Desa Kedayunan

Daerah tersebut dahulu pada zaman Kerajaan Blambangan dengan rajanya yang terkenal sakti yaitu Minak Jinggo merupakan tempat persinggahan para pelancong dan saudagar baik dari Kerajan Hindu Mojopahit maupun Kerajaan Islam Mataram, Oleh karena banyak orang yang datang ke daerah ini penduduknya selalu kedatangan tamu ( yang bahasa Osingnya Dayoh) kedatangan tamu atau ketamuan artinya dalam bahasa osing kedayohan, zaman makin berkembang kebutuhan masyarakat beraneka ragam mulai dari pendidikan  sandang dan pangan, sedangkan tenaga trampil untuk memenuhi kebutuhan ini sangat sulit, oleh karena itu didatangkanlah guru-guru ngaji dari cirebon, tenaga pengolah lahan pertanian dari Madura dan Tenaga Tenun dari Kutoharjo dan Muntilan. Menurut sejarah asal-usul Kedayuna versi pertama dan versi kedua adalah;

Kedayunan diambil dari asal kata “ DAYUN”  artinya abdi dalem, maksudnya dayun adalah sebuah profesi yang tugasnya memberikan pelayanan kepada seorang raja atau adipati,  mbah “ DAYUN”  menurut banyak orang diyakini makamnya berada di Kedayunan adalah abdi dalem Raja Minak Jinggo dari Kerajaan Blambangan, yang melarikan diri ketempat dimana dia dimakamkan dan dikenal dengan nama “ Kedayunan”.

Di Kedayunan terdapat  3 { tiga } situs berupa makam, pertma makam Mbah Dipo yang konon adalah salah satu Hulubalang Minak Jinggo, kedua adalah makam mbah Rondo Kuning dan yang ketiga adalah makam mbah “DAYUN “

Desa Kedayunan terdiri dari dua padukuhan ( dusun ) yaitu, Dukuh Krajan dan Dukuh Babakan. Sedangkan Dukuh Babakan adalah nama pemberian dari Seorang Ulama’  dari Cirebon, karena ulama dari Cirebon ini nama kampungnya yang ditinggalkan karena pengejaran Belanda adalah Babakan maka tempat tinggal yang beliau singgahi pertama dinamakan Babakan, karena selang beberapa tahun lamanya akhirnya beliau disediakan tempat di Kedayunan sampai sekarang beberapa keturunannya masih bisa kita temui baik di Dusun Krajan Kedayunan maupun di Dusun Babakan.

 

Sementara pencanangan pertama penentuan Desa Kedayunan adalah melalui sayembara, dalam sayembara itu diumumkan barang siapa yang biasa menancapkan tongkat Mbah Dipo dan jika dari tongkat itu keluar sumber mata air maka disekitar sumber itulah mulai dibanggun tempat tinggal penduduk Desa Kedayunan.

Ada Dua tempat yang menurut kesepakatan pemuka masyarakat yaitu Satrio Karang Anom dan sekitar wilayah makam Mbah Dipo. Setelah tongkat ditancapkan ternyata dikedua tempat tersebut keluar sumber mata air akan tetapi sumber mata air yang ada disekitar wilayah makam Mbah Dipo lebih besar maka ditentukanlah pecanangan pertama rumah / tempat tinggal pertama yang ada disekitar sumber mata air tersebut. Karena besar dan jernihnya sumber mata air tersebut pada akhirnya dipakai untuk pemandian Pemegang kuasaan Banyuwangi pada saat itu yang istilahnya dikenal dengan nama Kanjeng sama dengan bupati istilah sekarang. Sedangkan sumber mata air yang di wilayah Satrio Karang Anom digunakan untuk menunjang kebutuhan ekonomi masyarakat. Setelah Zaman Kemerdekaan oleh tokoh – tokoh masyarakat pada saat itu dimintak sumber kanjeng  dijadikan salah satu kekayaan Desa Kedayunan, untuk memintanya, tokoh – tokoh masyarakat itu pergi ke Besuki menemui Priggo Kusumo menyampaikan agar supaya sumber mata air ( Kanjeng ) diberikan kepada Masyarakat Desa Kedayunan.

Dari sejarah cikal bakal Desa Kedayunan ini dapat kita jadikan pelajaran bahwa  :

a.      Dengan kearifannya nenek moyang kita dahulu sadar betul bahwa Air  merupakan penunjang kehidupan manusia.

b.     Mereka menamakan sumber mata Air dengan sebutan “ Sirah” artinya Kepala dengan harapan agar semua orang dapat menghormati dan melestarikannya.

Demikian asal usul nama Kedayunan berdasarkan beberapa versi yang bisa digali dari para sesepuh desa dan tokoh masyarakat Desa Kedayunan. Selanjutnya, berikut ini dipaparkan Sejarah Pemerintahan Desa di Desa Kedayunan.

Semenjak berdirinya Desa Kedayunan  diperkirakan mulai Tahun 1860 sampai sekarang telah ada 11 ( Sebelas ) orang yang mengabdikan diri sebagai Kepala Pemerintahan di Desa Kedayunan, dan banyak lagi orang – orang yang mengabdikan diri sebagai pembantu dalam Pemerintahan desa Kedayunan yang tidak bisa disebut satu persatu, kurang adanya dokumentasi yang dijadikan  sebagai rujukan oleh karenanya dengan sangat minimnya sumber informasi kami hanya bisa menyajikan Kepala Pemerintahan di Desa Kedayunan.

Kepala Desa Kedayunan yang pertama ( Pak H. Bakar Isuk ) pada tahun 1850, dengan sistim pemilihan langsung oleh tokoh – tokoh Masyarakat pada waktu itu diangkat menjadi Kepala Desa Pertama karena dengan sifat kepemimpinannya bisa menggerakkan masyarakat pada waktu itu babat alas untuk kepentingan pribadi maupun kepentingan masyarakat dan tanah – tanah Kas desa ( Bengkok ) adalah hasil jerih payahnya dan tokoh – tokoh masyarakat pada waktu itu.

Demikian Asal Usul Desa dan Sejarah Pemerintahan Desa di Desa Kedayunan yang dapat disajikan dalam data ini, mudah-mudahan bisa menjadi pengalaman khususnya bagi generasi muda Desa Kedayunan guna membangun desanya.

Contact Details

  Alamat :   Jln. Raya Kedayunan Km. 08 No. 245, Kec. Kabat, Kab. Banyuwangi
  Email : desakedayunan01@gmail.com
  Telp. : 085236996660
  Instagram : @pemdes.kedayunan
  Facebook : pemdeskedayunan01
  Twitter : @pemdeskedayunan


© 2019,   Web Desa Kabupaten Banyuwangi